Kamis, 05 November 2020



KABARPROGRESIF.COM: (Surabaya) Meskipun angka kasus Covid-19 kian menurun setiap harinya, namun upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam memutus penyebaran virus global ini tidak pernah kendor sedikit pun.

Berbagai langkah terus dilakukan untuk menekan angka kasus agar Kota Pahlawan segera bebas dari pandemi.

Buktinya, hingga hari ini, jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya tetap melakukan tes swab secara masif diberbagai titik lokasi.

Berdasarkan data terbaru, Kamis (5/11), pemkot telah melakukan pemeriksaan sebanyak 215.869 spesimen.

Total keseluruhan pemeriksaan 215.869 spesimen itu dimulai sejak awal kasus hingga berdirinya Laboratorium Kesehatan Daaerah (Labkesda) yang terletak di Gayungsari, Surabaya.

Selain itu, keberadaan swab hunter juga memiliki peran dan mendukung upaya dalam memasifkan swab bagi warga Surabaya.

“Apalagi swab hunter ini setiap hari bergerak di seluruh kecamatan dan menyasar kepada orang-orang yang melanggar protokol kesehatan (prokes),” kata Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya, Febriadhitya Prajatara, Kamis (5/11).

Febri sapaan akrab Febriadhitya Prajatara menjelaskan, jika dihitung dalam sebulan terakhir untuk swab hunter, jumlah masyarakat yang terjaring dan dilakukan tes berjumlah tiga ribu spesimen.

Namun begitu, setelah dilakukan tes swab, ternyata hasil menunjukkan sebagian besar masyarakat hasilnya negatif Covid-19.

“Paling banyak pagi hari ya, sehari bisa sampai 40-50 orang yang melanggar prokes dan dilakukan tes swab,” tegasnya.

Di kesempatan yang sama, Febri menyebut selain swab yang tetap masif dilakukan, ternyata angka kesembuhan pasien Covid-19 terus meningkat.

Bahkan terkini, kasus aktif pun semakin hari semakin berkurang.

Terbukti per hari ini, jumlah kumulatif kesembuhan mencapai 14.896 kasus.

Sementara itu, untuk angka kasus aktif Covid-19 berjumlah 75 orang.

“Alhamdhulillah kasus aktifnya tinggal 75 orang. Semoga virus ini segera hilang dari Kota Surabaya,” tegasnya.

Ia berpesan, meskipun kondisi Surabaya saat ini semakin terkendali namun tak berarti masyarakat abai prokes. 

Menurut dia, sosialisasi prokes tetap harus terus dilakukan dan ditegakkan. 

“Pakai masker tetap menjadi keharusan, jaga jarak dan menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PBHS), jangan lupa rajin cuci tangan,” pungkasnya. (Ar)




KABARPROGRESIF.COM: (Probolinggo) Guna mencetak Prajurit TNI Angkatan Laut yang handal dan profesioanal di bidang persenjataan atas air, sebanyak 166 siswa kejuruan Senjata Atas Air (SAA) yang sedang menempuh pendidikan di Sekolah Artileri (Seart) Pusat Pendidikan Pelaut (Pusdikpel) Kodikopsla Kodiklatal menggelar Lattek menembak Meriam di  Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) TNI AL  Paiton Kabupaten Probolinggo Jawa Timur, Selasa, (5/11).

Latihan yang berlangsung selama lima hari tersebut dipimpin langsung Komandan Seart Pusdikpel Letkol Laut (P) Hananto Dwi Prasetyo yang juga sebagai Perwira Pelaksana Latihan (Palaklat) Lattek Penembakan Meriam.

Dari 166 siswa Seart tersebut terdiri 14 Siswa Pendidikan Spesialisasi Perwira (Dikspespa) Artileri, 62 Siswa Pendidikan Pembentukan Bintara (Diktukba) kejuruan Senjata Atas Air (SAA) Angkatan ke 50 dan 90 Siswa Pendidikan Pertama Tamtama (Dikmata) Angkatn 40 gelombang 1 kejuruan Amonisi, Meriam dan Rudal.

Sebelum pelaksanaan Lattek Penembakan Komandan Seart Pusdikpel Letkol Laut (P) Hananto Dwi Prasetyo menyampaikan bahwa Praktek menembak ini merupakan penjabaran dari teori yang sudah diterima di kelas kemudian diaplikasikan dalam bentuk latihan praktek yang meliputi pemeliharaan senjata dan penguasaan dalam penembakan, sehingga para siswa mampu menjadi operator dan pembantu operator meriam yang handal dan profesional.

Menurutnya dalam pelaksanaan lattek ini para siswa akan praktek menembak menggunakan beberapa senjata antara lain meriam kaliber 37 mm, meriam kaliber 40 mm, meriam kaliber 76 mm dan  mitraliur 12,7 mm.

Untuk materi latihan yang dilaksanakan adalah prosedur pengoperasian meriam, peran tempur, latihan penembakan dengan sasaran permukaan dan udara, metode mis fire dan penembakan meriam 76 dari simulasi Pusat Informasi Tempur (PIT) di gedung Gunnery Firing Range (GFR).

Mengingat dalam pelaksanaan penembakan menggunakan peluru tajam, Komandan Seart ini berpesan agar para peserta Lattek menjaga keamanan personil dan material, mengikuti instruksi apa yang disampaikan pelatih. (Pen Kodiklatal/Ar)




KABARPROGRESIF.COM: (Surabaya) Puluhan pemuda yang mengatasnamakan "Anak-anak Bu Risma Bersatu" menggelar aksi empati sebagai bentuk dukungan kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Ini lantaran Risma sebelumnya diadukan oleh seorang advokat, Abdul Malik, ke Polda Jatim pada Selasa (2/11) lalu. 

Advokat yang juga politisi Partai Gerindra ini menuduh Risma telah melakukan kebohongan publik lantaran menyebut Cawali Surabaya, Eri Cahyadi sebagai anaknya.

Albert Kurniawan, Koordinator Anak-anak Bu Risma Bersatu menegaskan, agenda ini dilakukan sebagai bentuk empati dukungan kepada Wali Kota Risma. 

Ia menilai, bahwa pelaporan yang dilakukan Abdul Malik ke Polda Jatim itu mengada-ada dan lucu.

"Ini adalah aksi solidaritas bahwa arek-arek Suroboyo ini berada di belakang Bu Risma. Kami menyatakan bentuk dukungan kepada Bu Risma, karena pelaporan Bu Risma yang kami rasa itu hanya pelaporan yang mengada-ada dan lucu," kata Albert saat ditemui usai aksi kegiatan, Kamis (5/11).

Selain menggelar aksi orasi, puluhan pemuda ini juga melakukan long march mulai perempatan SMA kompleks (Jalan Wijaya Kusuma) menuju kawasan Balai Kota Surabaya.

Dalam aksi itu, mereka membawa puluhan poster yang bernada dukungan kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

"Di sini kami juga merasakan bahwa Bu Risma itu merupakan sosok Ibu bagi kami. Kami sebagai anak-anak Surabaya merasakan benar-benar dimong (diasuh, red) oleh Bu Risma. Jadi ini bentuk dukungan kepada Bu Risma," jelas Albert.

Seusai menggelar orasi, massa ini kemudian ditemui perwakilan dari Bakesbangpol Surabaya di Kantor Bagian Humas.

Puluhan pemuda ini pun secara langsung menyampaikan maksud tujuannya untuk mendukung Wali Kota Risma. (Ar)




KABARPROGRESIF.COM: (Surabaya) Pada debat publik pertama Pilkada Surabaya, Calon Wali Kota Surabaya Machfud Arifin mengkritik penanganan Covid-19 di Kota Pahlawan. 

Meski Wali Kota Tri Rismaharini dan jajarannya tiada henti melakukan tes swab masif hingga menyiapkan fasilitas isolasi memadai, Machfud tetap menyerang. 

Bahkan, dia membawa nama Presiden RI Joko Widodo yang disebut Machfud pernah menyatakan Surabaya berstatus zona hitam penyebaran virus corona. 

Data kemudian berbicara bahwa Presiden Jokowi tak pernah mengatakan Surabaya sebagai zona hitam.

"Presiden sempat menyatakan bahwa Surabaya bukan lagi zona merah, tapi zona hitam," kata Machfud dengan tegas.

Aksi Machfud itu pun langsung menuai kritik pedas dari netizen.

“Lucu banget nih nonton debat calon walikota di JTV. Hari gini masih aja bahas Surabaya zona hitam, yo opo pak nomer loro iki,” kritik @donopradana yang juga seorang influencer di akun Twitter-nya yang memiliki 73.200 followers. Nomor urut 2 adalah nomor pasangan Machfud Arifin dan Mujiaman di Pilkada Surabaya.

Netizen lainnya pun menimpali. 

“Walah data manipulasi ae dipercoyo. Dibahas sisan wkwkwk wis gak masuk blas iki paslon nomor loro,” cuit @nadyafairuzz. 

Puluhan komentar juga tersaji menyoroti pernyataan Machfud yang disebut tidak berdasar.

Sementara itu, salah seorang Relawan Jokowi yang juga Ketua Jaringan Kemandirian Nasional (JAMAN) Surabaya, Nisa Izzati, membantah Presiden Jokowi pernah menyatakan jika Surabaya masuk zona hitam Covid-19. 

"Sepengatahuan saya, tidak pernah Presiden berucap seperti itu," ujarnya.

Apalagi, kata Nisa, berdasarkan aturan di Gugus Tugas Covid-19 tidak ada yang namanya istilah zona hitam, yang ada hanya merah.

"Jika ada yang menyebut Surabaya zona hitam, menurut saya itu terlalu lebay. Saya kira jika Pak Machfud bilang Surabaya zona hitam, itu terlalu lebay," pungkasnya. (Ar)


Rabu, 04 November 2020



KABARPROGRESIF.COM: (Surabaya) Debat publik perdana calon wali kota dan calon wakil wali kota (Cawali-Cawawali) Surabaya, diwarnai pernyataan menyerang secara membabi buta oleh pasangan calon (paslon) nomor 2 Machfud Arifin (MA) dan Mujiaman kepada paslon nomor urut 1 Eri Cahyadi-Armudji.

Namun sayangnya, serangan yang dilemparkan Machfud dinilai pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam gagal. 

Sebab Eri Cahyadi menanggapi dan menjawab pernyataan dan pertanyaan MA dengan nada tenang serta ditambahi dengan data-data kuat.

“Pak Machfud mencoba memancing emosi Pak Eri dan membuat Pak Eri kesulitan menjawab pertanyaannya. Namun serangan itu tak tercapai, karena Pak Eri menjawabnya dengan kalem dengan disertai data-data. Akhirnya serangan itu tidak mengena. Beberapa kali serangan itu dilancarkan Pak Machfud,” ungkap Surokim, Rabu (4/11).

Contohnya saat pasangan Machfud berulang kali menyampaikan data jumlah korban meninggal dunia karena Covid-19, kemudian dijawab oleh Eri Cahyadi dengan mengungkapkan data bahwa secara umum penanganan Covid-19 di Surabaya sudah sesuai jalur.

“Pak Eri menjawab bahwa kasus aktif sekarang 79 orang, sedangkan yang meninggal dunia karena ada komorbid atau penyakit bawaan. Kemudian yang sembuh juga semakin bertambah dengan data yang lengkap. Terlihat Pak Eri bisa menahan emosi di panggung dan mematahkan serangannya Pak Machfud. Pak Eri sangat kuat di data, lebih menguasai data,” katanya.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) UTM tersebut menilai, gaya Eri tidak dibuat-buat, tampil kalem apa adanya. Sedangkan Armudji tampil dengan karakter khas Arek Suroboyo. Sedangkan MA dan Mujiaman bergaya ofensif.

Surokim juga tidak mengelak bahwa apa yang disampaikan Eri Cahyadi terkesan sebagai petahana, dan memuji Wali Kota Tri Rismaharini, sedangkan MA berada di posisi penantang.

Kendati demikian, sikap tersebut justru menjadi poin positif bagi Eri Cahyadi-Armudji karena nama besar Risma yang masih disukai masyarakat Kota Pahlawan.

“Kepuasan warga terhadap Bu Risma semakin meningkat, yakni dari 82 persen menjadi 90 persen,” katanya mengutip hasil riset terbaru.

Pada debat berikutnya, Surokim berharap masing-masing paslon bisa menyajikan data-data yang akurat tidak sekadar pernyataan-pernyataan pandangan mata.

“Secara keseluruhan, pada debat pertama ini sudah menarik dan positif. Dibanding debat pertama yang diikuti daerah lain, Surabaya yang paling menarik,” pungkasnya. (Ar)




KABARPROGRESIF.COM: (Surabaya) Kota Surabaya menggelar debat perdana pada Rabu malam (4/11) dengan menghadirkan dua pasangan calon, yaitu Eri Cahyadi-Armudji dan Machfud Arifin-Mujiaman. 

Dalam salam satu sesi, terdapat pertanyaan tentang penanganan Covid-19.

”Problem covid-19 tidak hanya problem rumah sakit tapi juga komunitas. Pertanyaannya, apa yang akan Anda lakukan untuk mitigasi pandemi?” demikian pertanyaan disampaikan moderator.

Lalu Calon Wali Kota Machfud Arifin menjelaskan, bahwa penanganan Covid-19 harus mengacu pada aturan pemerintah pusat.

”Kita harus pencegahan terhadap penyakit covid. 3M, memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Juga menjaga daya tahan tubuh dengan minum vitamin,” ujar Machfud yang merupakan purnawirawan polisi.

Sedangkan Calon Wali Kota Eri Cahyadi menjawab lebih panjang. 

Eri mengatakan, mitigasi terhadap pandemi Covid-19 adalah tanggung jawab bersama. 

Misalnya dengan kampung tangguh yang telah dilakukan bersama-sama antara Pemkot Surabaya, TNI, dan Polri. 

”Juga ada swab di mana-mana. Ada tim pemburu pelanggar protokol kesehatan. 3M saja tidak cukup. Pandemi ini harus dihadapi dengan tracing, testing, dan treatment yang dilakukan bersama. Hasilnya, sekarang tinggal 79 pasien Covid-19 (yang masih dalam perawatan di Surabaya),” ujarnya.

Dalam konsep penanganan Covid, memang kuncinya adalah tes, tracing (penelusuran), treatment, dan isolasi. 

Eri Cahyadi dalam beberapa segmen debat juga terus menekankan bahwa penanganan pandemi Covid-19 salah satunya adalah tes yang masif. Di Surabaya sendiri tes swab gratis terus dimasifkan. 

Keberadaan tes swab gratis ini memudahkan deteksi persebaran Covid-19, sehingga bisa dengan cepat dilakukan tracing, treatment, dan isolasi.

”Satu-satunya kabupaten/kota yang memiliki laboratorium swab gratis adalah Surabaya Pandemi Covid-19 melanda dunia, tapi ini adalah kehebatan warga Surabaya melakukan langkah penanganan bersama. Sekarang swab gratis terus-menerus. Itulah kehebatan para dokter dan tenaga kesehatan (nakes),” ujar Eri. (Ar)




KABARPROGRESIF.COM: (Surabaya) Ada kejadian lucu saat debat Pilkada Surabaya, Rabu malam (4/11). 

Saat Calon Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Calon Wakil Wali Kota Armudji menanyakan tentang rencana untuk menurunkan indeks rasio gini atau tingkat kesenjangan, justru Calon Wali Kota Machfud Arifin dan Calon Wakil Wali Kota Mujiaman malah menjawab Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

”Indeks gini akan berapa pada lima tahun ke depan dan bagaimana cara mencapainya?” tanya Armudji kepada Machfud dan Mujiaman.

”Terima kasih pertanyaannya. IPM di Surabaya memang nomor satu di Jawa Timur, tapi secara nasional nomor 12. Terkait dengan namanya prioritas sebagai anggota Bappeko, kita ini punya sister city 13, kita hanya mampu 0,14 persen investasi yang ada di Surabaya, menggambarkan kepercayaan internasional di Surabaya masih rendah,” ujarnya.

”Ini menggambarkan investasi di Surabaya tidak nyaman,” ujar mantan Kapolda Jawa Timur tersebut.

Bukannya menjelaskan soal indeks gini di Surabaya, Mujiaman malah kembali mengulang-ulang soal investasi.

Moderator kemudian menyilakan Eri dan Armudji untuk menanggapi.

“Saya hanya tanya satu. Indeks gini itu berapa, lima tahun ke depan itu rencananya berapa dan bagaimana caranya? Nah ini juga tidak dijawab lagi,” kata Eri.

Indeks gini sendiri adalah indikator untuk mengukur kesenjangan pendapatan dan kekayaan warga.

Indeks ini digunakan untuk menilai tingkat kesenjangan di sebuah wilayah dengan nilai 0 sampai 1.

Apabila koefisien Gini bernilai 0 berarti pemerataan sempurna, sedangkan mendekati 1 berarti kesenjangan meningkat. (Ar)




KABARPROGRESIF.COM: (Surabaya) Saat debat pertama Pilkada Surabaya 2020. Cawawali Mujiaman beberapa kali tertangkap kamera sedang berbisik kepada Cawali Machfud Arifin.

Sikap ini dinilai oleh pengamat Politik asal UPN Veteran Surabaya, Catur Suratnoaji bila pasangan nomor urut 2, Machfud Arifin-Mujiaman kedodoran data.

"Saya melihat pasangan Machfud Arifin-Mujiaman tidak begitu menguasai data," ujar Catur, Rabu (4/11).

Catur mencontohkan, beberapa kali Machfud memberikan pertanyaan yang tidak berbasis data, namun pandangan mata atau dalam bahasanya blusukan.

"Secara metodologis, pandangan mata itu tidak bisa dipertanggungjawabkan, bisa menjadi bias. Seharusnya dengan data," imbuhnya.

Pertanyaan-pertanyaan tanpa data dari pasangan Machfud Arifin-Mujiaman, lanjut Catur, hanya bersifat menyerang untuk menjatuhkan lawannya saja.

Dalam istilahnya membingkai sebuah pekerjaan dengan kegagalan.

"Apakah benar yang disebutkan berdasar pandangan mata itu sesuai fakta secara keseluruhan. Itu persoalannya," tegas Catur.

Catur menilai, secara keseluruhan debat malam ini berlangsung aktraktif dengan keunggulan pasangan Eri Cahyadi-Armudji.

"Kalau misalnya dikasi skor ya.. 80 vs 78 lah untuk keunggulan pasangan Eri Cahyadi-Armudji. Keduanya terlihat tenang meski secara terus menerus diserang. Dan mereka terlihat cukup menguasai permasalahan serta solusi untuk Surabaya," pungkas Catur. (Ar)




KABARPROGRESIF.COM: (Surabaya) Pada debat publik pertama Pilkada Surabaya, Calon Wali Kota Surabaya Machfud Arifin menegaskan bahwa Presiden RI Joko Widodo menyatakan Surabaya berstatus zona hitam penyebaran virus corona (Covid-19).

"Presiden sempat menyatakan bahwa Surabaya bukan lagi zona merah, tapi zona hitam," kata Machfud dengan tegas, Rabu (4/11).

Machfud juga menyoroti penanganan Covid-19 oleh Pemkot Surabaya yang disebutnya masih banyak dikeluhkan, termasuk oleh RT dan RW.

Sementara itu, salah seorang Relawan Jokowi yang juga Ketua Jaringan Kemandirian Nasional (JAMAN) Surabaya, Nisa Izzati, membantah Presiden Jokowi pernah menyatakan jika Surabaya masuk zona hitam Covid-19. 

"Sepengatahuan saya, tidak pernah Presiden berucap seperti itu," ujarnya.

Apalagi, kata Nisa, berdasarkan aturan di Gugus Tugas Covid-19 tidak ada yang namanya istilah zona hitam, yang ada hanya merah.

"Jika ada yang menyebut Surabaya zona hitam, menurut saya itu terlalu lebay. Saya kira jika Pak Machfud bilang Surabaya zona hitam, itu terlalu lebay," pungkasnya. (Ar)




KABARPROGRESIF.COM: (Surabaya) Calon Wakil Wali Kota Surabaya Armudji meminta Calon Wali Kota Machfud Arifin untuk lebih obyektif dalam menilai pembangunan Kota Pahlawan. 

Bahkan, Armudji menyebut Machfud ketinggalan berita karena tidak mengetahui perkembangan dunia pendidikan Surabaya yang sudah melaju pesat.

”Tentunya pemerintah kota sudah melakukan, sudah banyak yang dilakukan. Mungkin Pak Machfud ketinggalan berita, atau salah pembisiknya,” ujar Armudji dalam debat publik perdana Pilkada Surabaya, Rabu malam (4/11/2020).

Armudji melancarkan kritik tersebut ketika debat membahas soal perkembangan pendidikan di Surabaya. 

Sebab, indeks pembangunan manusia (IPM) Surabaya telah mencapai 82,2, tertinggi di Jawa Timur.

”Contoh konkrit, SD di Surabaya infrastrukturnya cukup, begitu juga guru-gurunya. Demikian pula yang SMP. Ini sudah mendapat pengakuan dunia. Ini kita harus bangga punya kota seperti ini,” ujarnya.

Calon Wali Kota Eri Cahyadi kemudian menanyakan tentang program Machfud-Mujiaman tentang bagaimana cara meningkatkan IPM Surabaya ke depan. 

Tapi pertanyaan Eri tidak dijawab konkrit oleh Machfud tentang bagaimana peningkatan IPM ke depan. (Ar)




KABARPROGRESIF.COM: (Surabaya) Calon Walikota dan Wakil Walikota Surabaya Eri Cahyadi-Armuji berkomitmen untuk melanjtukan program-program terbaik yang selama ini sudah ditelurkan oleh Tri Rismaharini. 

Hal itu disampaikan oleh Eri saat pemaparan visi-misi di Debat Cawali Tahap 1, Rabu (4/11/2020) malam.

Eri mengatakan, dirinya dan Armuji akan membangun Kota Surabaya dengan kualitas internasional, dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat berkualitas, kota yang menjadi tempat kondusif untuk membangun usaha dan mengekspresikan diri.

“Kami berterima kasih kepada Bu Risma yang sudah menjadikan Kota Surabaya menjadi kota yang maju dan berjaya sejauh ini. Kami komitmen untuk melanjutkan program yang sudah baik yang dilakukan Bu Risma,” kata Eri.

Selain akan melanjutkan keberhasilan program-program yang sudah dilakukan oleh Risma, Eri juga berkomitmen untuk mengubah dan mentranformasi Kota Pahlawan supaya bisa menjadi lebih baik lagi. 

Ia ingin Kota Surabaya bisa membuat arek-arek Surabaya yang berada di manapun berada, bangga dengan adanya Kota Pahlawan.

“Kita ingin membuat bangga arek-arek Suroboyo,” katanya.

Tak hanya itu, ia juga berjanji akan memabwa Surabaya bisa melewati masa sulit di tengah pandemi ini dengan berbagai program yang akan mereka berikan. 

Ia akan bekerja keras agar tidak ada rakyat Surabaya yang terlantar karena tidak bisa berobat, tidak ada anak yang putus sekolah karena orang tuanya tidak bisa membiayai, dan tidak boleh ada raklyat yang tidak bisa makan karena kehilangan pekerjaan.

“kami akan menggunakan APBD untuk menggerakan ekonomi rakyat, dan menciptakan iklim investasi dan partisipasi semua lapisan masyarakat di Kota Surabaya,” katanya.

Mantan Kepala Bappeko itu pun juga memenyinggung mengenai nilai APBD Surabaya yang bernilai Rp. 10 triliun.  

Ia ingin nilai sebesar itu agar seutuhnya bisa menjadi anggaran untuk rakyat. Ia mengatakan, setiap rupiah dari APBD Surabaya harus untuk kepentingan rakyat.

“Surabaya harus menjadi kota yang diakui dunia, dengan kualitas birokrasi terbaik, di mana rakyat bisa menempuh pendidikan dan kesehatan secara gratis. Satu hal yang harus diketahui, ketika kami terpilih, kami akan melanjtukan keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai. Kami akan ubah Surabaya lebih baik lagi,” pungkasnya. (Ar)




KABARPROGRESIF.COM: (Surabaya) Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang dilaporkan ke Polda Jatim oleh Advokat Abdul Malik ke Polda Jatim berbuntut panjang.

Abdul Malik yang juga politisi Partai Gerindra ini menuduh Risma telah melakukan kebohongan publik lantaran menyebut Calon Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sebagai anaknya.

Tak ayal atas laporan polisi itu, malah menumbuhkan empati dari sejumlah kalangan. Salah satunya dari kelompok advokat.

Para praktisi hukum ini pun sepakat bersatu memberikan dukungan kepada Wali Kota perempuan pertama di Kota Surabaya ini.

Wujud dukungan itu tergambar lewat pembentukan sebuah wadah. Yakni ”Advokat Anak-anak Bu Risma Bersatu” yang beranggotakan 65 pengacara.

Juru bicara Advokat Anak-anak Bu Risma Bersatu, Rio Dedy Heryawan menjelaskan, laporan tersebut sangat tidak berdasar, bahkan cenderung lucu. 

”Kan itu kata kiasan. Karena Mas Eri memang dididik oleh Bu Risma. Ini kan sama dengan Bu Risma selalu bilang bahwa seluruh anak di Surabaya ini adalah anaknya, sehingga beliau mati-matian membela, mulai menyelenggarakan sekolah gratis, memberi beasiswa, merawat anak telantar, membina anak jalanan dan sebagainya," jelasnya, Rabu (4/11).

Dia juga mencontohkan seorang guru yang mengajar di kelas. Mereka memanggil murid dengan sebutan anak.

"Seharusnya pelapor harus memahami terlebih dahulu," paparnya.

Rio menambah, para pengacara juga prihatin karena kondisi menjelang pemilihan walikota (pilwali) Surabaya semakin tidak kondusif.

Ada calon tertentu yang bermanuver segala cara dan membabi-buta menyerang Risma.

Bahkan, foto Risma dihalangi untuk ditampilkan di alat peraga kampanye (APK), padahal Risma adalah aktivis partai yang secara aturan dilegalkan untuk tampil pada APK.

Seperti diketahui, beberapa hari lalu, advokat bernama Abdul Malik melaporkan Risma ke Mapolda Jatim.

Ada dua poin aduan. Pertama pernyataan Risma saat kampanye yang menyatakan calon walikota Eri Cahyadi merupakan anaknya. 

Poin kedua terkait cuti kampanye. Pada laporan itu, Risma dianggap belum mengajukan cuti kampanye.

”Kami sudah telaah semua, Bu Risma tidak bersalah. Bu Risma akan dizalimi, maka kami akan bergerak membela. Kami akan melakukan pendampingan pada bu Risma, bahkan banyak advokat lain yang akan bergabung membela beliau,” pungkasnya. (Ar)


Narkoba

Koperasi & UMKM

Terus Kobarkan Semangat Perjuangan Arek-arek Suroboyo 10 Nopember 1945 untuk memberantas Korupsi, Terorisme dan Penyalahgunaan Narkoba

Translate

Hukum

Metropolis

Nasional

Pidato Bung Tomo


Hankam

Popular Posts

Blog Archive